Selasa, 04 November 2014

Dongkrek Madiun




Berbicara soal kebudayaan, setiap daerah atau wilayah pastinya memiliki kebudayaan masing - masing yang menjadi ciri khas daerah. Seperti halnya Reog Ponorogo yang menjadi ciri khas Kota Ponorogo, Kota Ponorogo juga disebut Kota Reog. Tapi kali ini tidak akan membahas soal reog ataupun Ponorogo. Yah, dalam artikel ini akan dibahas soal kebudayaan yang ada di Madiun. Madiun memiliki berbagai kebudayaan semacam Pencak Silat, Kesenian Dongkrek. Sedangkan ciri khas soal makanan madiun juga memiliki makanan khas seperti sambel pecel, brem dan lain-lain. Bahkan Kota Madiun disebut kota brem. Dalam artikel ini akan dibahas lebih mendalam soal kesenian Dongkrek.  Bicara soal dongkrek sebagai warga Madiun pastinya tidak asing dengan kesenian tersebut. Selain menarik kesenian dongkrek ini memiliki petuah atau nasehat yang positif yang digambarkan dalam pementasaanya
.
Alat Musik Beduk dan Krek

Kesenian dongkrek ialah sebuah seni tradisi yang menggabungkan unsur tari, drama, dan musik.  Kesenian asli Madiun ini disebut seni dongkrek bermulai dari bunyi atau suara yang dihasilkan oleh perpaduan dua alat musik tradisional yang mengiringinya. Yakni bunyi “Dung” yang dihasilkan dari beduk atau kendang yang dipukul dan bunyi “Krek” dari alat musik yang disebut korek. Alat musik korek ini berbentuk bujur sangkar yang terbuat dari kayu, di sisinya terdapat tangkai kayu yang bergerigi dan jika digesek akan berbunyi krek.
 Dari perpaduan dua bunyi itulah lantas masyarakat masyarakat menyebut kesenian ini kesenian dongkrek. Perpaduan bunyi tersebut digunakan Raden Ngabeh Hilo Prawirodipuro untuk mengusir setan yang menyebabkan wabah dan bencana alam sekitar tahun 1867 di Medjayan. Namun, dalam perkembangannya kesenian dongkrek juga menggunakan komponen alat musik lainnya sepersti gong besi, gong kempul, kenong, kentongan, dan kendang. 
Tiga Pemain Dongkrek Dengan Karakter Topeng Mereka
Di setiap pementasan dongkrek, terdapat tiga penari yang menggunakan topeng. Ada topeng raksasa atau buto yang bermuka seram. Ada topeng perempuan yang menguyah kapur sirih yang melambangkan cibiran, serta topeng orang tua yang melambangkan kebajikan. Ketika atraksi digelar, kesenian ini akan menampilkan fragmentasi pertarungan seru dalam kehidupan, antara kebaikan dan kejahatan. Ada orang bajik yang bertarung  dengan buto yang hendak menyebarkan keburukan. Dan akan ada pihak yang mencibir niat – niat jelek (wanita bertopeng). Ada juga pemusik yang seakan akan mengalunkan do’a – do’a keselamatan. Di zaman globalisasi ini fungsi dongkek sudah bergeser dari ritual menjadi perayaan yang dipertontonkan untuk masyarakat umum.
Kesenian dongkrek sangat menarik, biasanya ditampilkan di acara – acara pentas kebudayaan. Bahkan Kesenian Dongkrek pernah dipentaskan di Istana Merdeka Jakarta. Kita sebagai warga Madiun patut bangga mempunyai kesenian semacam itu. Sanggar kesenian dongkrek sekarang banyak, di luar Madiun pun juga ada. Tidak jarang pementasan kesenian dongkrek juga dijadikan perlombaan antar sekolah di Madiun, hal tersebut dilakukan sebagai upaya pelestarian kesenian dongkrek di kota aslinya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar